Wednesday, December 3, 2008

Tentang Dina ...

Akhirnaa... aku bisa kembali tersenyum ceria, meskipun kadang ada ngumpul2 ama temen dan ngakak bareng, tapi senyumku kali ini sambil menarik nafas lega.. belum tau sampe kapan hiks.. mudah2n forever ya. Pertama, karna si tomboy Dina putri sulungku dah kembali jadi cewek yang feminin sesuai kodratnya. Mau dandan dan berpakaian rapi dan bahkan sekarang kalo dandan lebih bawel ketimbang biasanya. Dina yang tiga tahun lalu berpenanmpilan amburadul gaya punk, terkadang cenderung gothic yang berpakaian serba hitam dan dandanan pun juga hitam kinclong, kini dina dah mulai menyukai aneka warna pakaian, sepatu, jacket, syal dan topi. Bicarapun udah mulai sopan walau kadang masih rada judes, hii ...
Dina datang sama2 denganku dan tinggal diswiss negara kecil tanpa basa basi ini, sejak dia berumur 12 tahun. Saat itu suamiku datang ke Ina untuk menjemputku dan anak2. Bisa dibayangkan saat itu dina sedang mengalami masa puber, masa dimana para anak2 mengalami banyak perubahan. Aku sebagai ibu yang sudah menyadari betul akan kesulitan pada masa2 seperti itu, hanya bisa berikan nasehat yang baik sesuai kultur-ku, kultur kita bangsa Endonesa. Disisi lain aku sama sekali tidak menyadari kalo anak2ku ini tentu saja mempelajari juga kultur yang ada dinegara kami tinggal sekarang ini. Melalui pelajaran disekolah sehari harinya dan pergaulan dengan teman2 mereka, tentu saja lebih banyak ketimbang pelajaran didalam rumah. Karna system sekolah disini dari pagi hingga jam 6 sore. Kumpul dengan ortu dan keluarga cuma pas malem hari dan wiken saja. Dilatar belakangi hal tersebut, dina yang saat itu masih belum stabil, lebih cepat dipengaruhi hal2 negativ melalui teman2 dalam pergaulan sehari2. Kaget, tentu saja ...

Masih belum bisa membedakan mana yang baik dan tidak, ingin mencoba dan mencoba tanpa tau apa dampak negativnya. Sekilas tentang dina, 2 tahun lalu aku nyaris tak berdaya mengahadapi masalah yang bertubi2 yang tentu saja datang dari sisi dina. Yang kukatakan pada suamiku saat itu hanya "hidupku untuk anak2ku2 ..." Bungkam seribu basa suamiku tidak bisa berbuat apa2. Puncak peristiwa yaitu dua tahun lalu dina dan micelle cs melakukan aksi pembobolan villa politikus terkemuka di negara ini, hingga saat ini nama pemilik villa tersebut masih dirahasiakan oleh badan hukum setempat! Benar tidaknya aku sendiri tidak tau. Dina cuma diajak untuk ikut party dirumah paman dari micelle. Kelima teenager termasuk dina, dua diantaranya original cowok.

Melaului proses yang njlimet, aku yang hanya berbekal keberanian datang beberapa kali menghadiri sidang kecil. Teman2 dina saat itu masih dalam pencarian, dan tentu saja dina yang harus menghadapi sendiri interview demi interview. Tuhan adil ... anakku dina saat itu masih dibawah umur, dia tidak bisa dijadikan tersangka, justru sebaliknya dina adalah saksi mata! satu bulan kemudian micelle cs tertangkap dan dikenai hukuman penjara dan kena sangsi denda atas kerugian2 dalam villa tersebut yang mayoritas barang2 dan interiornya seharga jutaan mata uang swiss frank.

Suamiku marah dan malu tentu saja, tapi aku tidak bisa bertindak lain selain berdoa dan berdoa. Aku nggak mau kehilangan anakku. Tuhan adil ... demi keamanan rumah tanggaku dan juga keamanan dina untuk dijauhkan dari ex teman2nya itu, sejak dua tahun lalu Dina juga dapat sangsi yaitu jadi tanggung jawab pemerintah berdasarkan undang2 remaja dan harus masuk ke Internat School sampai selesai magang dan mendapat pekerjaan. Meskipun sempat membuatku schock, namun aku yakin itu adalah jalan terbaik buat kami. Selama dua tahun itu, dina berada dalam internat school putri. Kadang kalo dina error, nggak jarang para Coach disana menelponku, emergency! Didalam sana dina harus belajar dan bekerja serta mendapat uang saku dan gaji. Kami hanya meneruskan biaya finansial. Tapi karya tulis, sekolah lanjutan hingga magang semua adalah tanggung jawab pemerintah terhadap dina hingga masa depannya nanti. Sekarang ini dina sedang menekuni dunia modelling, karya seni dan perhotelan. Ealah... mudah2an sukses ya nak ... *meminta dengan memelas.

aku dan Dina. (keliatan ya noda jerawatku ...)

Faktor kedua yang bikin aku bisa tersenyum lega, dina semakin sadar bahwa hidup ini memang sangat berarti dan kita harus mengisinya dengan perbuatan dan kegiatan yang baik dan positiv. Masa lalu atau masa remaja dina yang kelabu tidak membuat dina minder, lucunya lagi badan pemerintahan yang menanggung para remaja error ini kadang terlalu memanjakan mereka. Kadang aku nyaris menitikkan air mata kalo pas ketemuan dengan dina anakku ...
Aku Judith, yang saat itu sempat jadi gunjingan teman2 lantaran kasus dina, aku tidak peduli teman2ku mo bilang apa, nobody perfect! Hal itu bukanlah aib. Seperti itulah warna hidup. Justru melalui peristiwa2 yang dialami dina, aku semakin banyak belajar dari dina, dan bahkan suamiku sendiri belum memahami betul dengan undang2 untuk para remaja error dinegaranya ini. Mereka lebih banyak mendapat perhatian, dibimbing, dijamin dan diarahkan yang benar untuk bisa meraih masa depan. Bukan dikucilkan, bukan dicaci maki dan dihina.
Masih ada masyarakat swiss asli yang bisa mengerti keadaanku, ibu njlimet ngurus rumah tangga dan anak2 dinegara orang. Kuat Iman dan Mental yang membuatku hingga seperti sekarang ini. Perbedaan kultur itulah yang sampe saat ini jadi kesulitanku. Dengan dukungan suamiku, aku tetap mejalankan Kultur tanah airku ...
Tidak ada masa lalu, tidak akan ada masa depan ... dua patah kata itu yang kukatakan pada Dina, pas wiken kemarin kami bertemu ...

25 comments:

Judith said...

Waakkk ... postingan e kok jadi panjang gini :( ealah..

Andri Journal said...

Ungkapan "anak polah bopo kepradah" lak bener to mbak...Koyone memang luwih repot duwe anak wadon daripada anak lanang.

Soko judul nganti ngisor tak woco alon2, ketoke kok cobaan nggo koe akeh tenan yo...Sering2o sharing mbak, mbuh kuwi karo bojomu utowo karo konco2. Pokoke ojo mbok pendhem dhewe yo...(karo ngelus2 gegere mbak Judith).

Gusti Allah maringi cobaan miturut kemampuan kawulane...Sing sabar mbakyu....Salam nggo irdina. :)

Ge Siahaya said...

Luarbiasa mbak perjuangannya (^_^) Tapi mmg benar, tanpa masa lalu, tidak ada masa depan, semua mmg berjalan seperti itu. Yg pasti, masa lalu bukanlah hal yg harus menentukan masa depan, asal sejak sekarang mengatur langkah dengan sebaik2nya.

Hmm... GBU mbak, stay strong and stay in faith, He will never let you down and let you walk alone.

Terharu diriku... GBU and family.

Eucalyptus said...

Wah.... mungkin Dina remaja waktu itu mengalami culture schock ya....
Aku bener2 salut sama perjuangan kamu pada waktu kasus itu, Dith.... syukurlah sekarang Dina udah kembali feminin dan cantik sekali...
Memang anak adalah se-gala2nya buat kita ya...

frizzy2008 said...

Dari awal aku dah bilang, mbak Judith salah satu profil wanita yang aku kagumi. Pengalaman ini akan aku jadikan referensi buat menghadapi masa depan anak2ku. Terima kasih atas sharing yang berharga ini.
Salam hangat buat keluarga mbak di musim dingin ini yaaa.

Cheers, frizzy2008.

mochie said...

Judith, terharu banget baca critanya.. Semoga Dina berubah menjadi lebh baik dr skrg u/Dina n Judith terutama...

Mudah2an semua kesah n doa Judith didengan Tuhan ya.. Dan Dina dont make u mom upset wokeh..

Neng Keke said...

Bangganya Dina punya ibu seperti Mba Judith :)

Lidia Sianturi said...

Bucil...aku bangga thd dikau..
yang kuat ya..Tuhan ga pernah menutup mata pd umatNya yg berdoa...
luv u!

Anonymous said...

Menjalani cobaan seperti itu di negeri sendiri saja tak mudah, apalagi di negeri orang.
Mending itu si Dina segera dicarikan calon suami :D, umurnya berapa emg?
Tetap tampakkan senyum di wajahmu,Bun!

deFranco said...

Wuihhh...that's what i call super mom!!! Sing sabar yo mbak...kabeh mesti ono hikmahe...perjalanan hidup seseorang siapa yang tahu, mungkin memang jalan hidup putri cantik panjenengan iku kudu melewati beberapa cobaan koyo ngono...tapi yakin wae, semakin banyak seseorang menerima cobaan dan berhasil melewatinya maka ia akan menjadi orang yang tangguh...

Kok aku dadi ngomong koyo wong tuwo ngene ya...hehehe

Milla Widia N said...

Mami yang hebat dan sabar. Bener2 perjuangan seorang Ibu untuk anaknya.
Memang rada susah ya kalo mengurus anak di negara orang dengan kulture yg berbeda dari tanah air.
GBU and Family ya ^^

Judith said...

# Andri : Maturnuwun Ndri, terharu mbaca nasehatmu :(

# -G- : Aku juga ikutan terharu baca tulisanmu Gatty, makasih sahabatku..

# Eucalyptus : Betul yang mbak bilang itu, kultur schock .. makanya Dina benar2 dalam bimbingan yang baik di internat school-nya. Nggak bisa menyalahkan siapa2 kalo dah kultur schock gitu, asal jangan lagi salah pergaulan. Makasih mbak Evi :)

# Frizzy : Masa sih Zy ... jadi tersanjung nih :) makasih sekali salamnya.. aku dah lega bisa sharing gini.

# Yossy : Amin .. makasih Yoss, jadi ikutan terharu..

# Neng Keke : Makasih Neng Keke :)

# Lidya : Makasih Lidya, hiks jadi sedih sekaligus terharu...

# Dony : Aku tetap tersenyum Don, maturnuwun.. ealah lha dina kiy masih umur 18 tahun kok dicarikan suami, piye toh .. masih terlalu muda Don.

# Tukang Nggunem : Mantap Git! banyak orang yang juga bilang begitu, pancen dah jalannya dan sekarang2 ini aja si dina dah nampak tegar, berani melawan orang siapa aja yang salah. Maturnuwun nggo Gunemanmu Git :)

# Milla Widia : Makasih Milla, Doakan saja dweh .. GBU too :)

Andri Journal said...

Dony sajake wis kebelet pengin nglamar kuwi mbak..hahaha...

dyah said...

Mbak...salut dengan ketabahan dan kekuatan mbak menghadapi liku-liku hidup. You are such a strong woman!

Terimakasih banyak yaaa sudah sharing kisah hidup mbak. Membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki.

sayurs said...

selamat... selamat... mangan2...
*halah*

Anonymous said...

wahh... iya nih postingannya panjang banget kyk gak ketemu bertahun2 sama temen mbak judith hehehe

Tha..^^ said...

wah, bagus sekali postingannya mami
Ini nih yang namanya kasih ibu sepanjang masa

Congrats mami buat Dina yang sudah berusaha keras buat berubah,
Tha yakin pati semua dilakuin buat maminya yang tercinta :)

Anonymous said...

wah.. tante benar2 hebad ^^ tabah banged :)

Judith said...

# Andri : Eh adiku, ketemu lagee :D

# Dyah : Makasih Dyah, mudah2an begitu :)

# Sayurs : Ngh .. mambu sate kambing kiy, hayo bagi2 :P

# Lyla : Kayaknya nggak nyambung deh la postingan panjang ama lama nggak ketemu temen ...*#@?!%*

# Tha : Amen, GBU Tha .. :)

# Shinejuwita : Mudah2an begitu ya juwi ...*halah ge er*

Anonymous said...

satu kata yang q ucapin pas baca ini : salut!!! Judith ibu yang bener2 baik.. *jadi teringat sama mama-na elmo* :)q rasa seberat apapun masalah yang dialami sama anak, kalo ada ibu yang bisa berikan nasihat dan support dengan sabar, pasti anak itu tetep tegar dan jadi lebih baik :) Judith.. elmo kagum deh.. *jadi tmbh sayang sama Judith *hugs*

Judith said...

Makasih MO .. hiks jadi terharu..*peluk Elmo erat2*

Anonymous said...

dith, God is so good. Rancangannya selalu indah.

Anonymous said...

auntie..... oh... tidak.... hix hix...

so nice. walo telat, selamat hari ibu ya. U r deserved to be awarded as one of greatest moms!

I love ur quote : without past, there is no future!!!

Tetap berserah ma Gusti ya...

Anonymous said...

# BlogGendeng : Makasih ndeng, kasihNYA seperti sungai ya.. mengalir diwaktu senang dan susah..

# Hainz : Thanks Hans, jadi terharu nih. Pancen Gusti Maha Bijak, pantas kalo aku selalu berserah padaNYa.

yulanhakim said...

tante sedih bgt post nya.. tante baek bgt ya mau nemenin anaknya sampe segitunya. andaikan.. andaikan.. andaikan.. andaikan.. andaikan......

seneng baca postingan ini, ikut bangga sm tante yg udah mati2an sayang bgt sm anak2nya :')