Masih seputar Euro 2008, kenyataan sebuah mimpi besar yang sudah diwanti wanti oleh tim Spanyol. Pada tahun 1964 sejak pertamakalinya menang Eropa Meister, dan kini kembali menjadi Eropa Meister 2008. Fernando Torres, yang pada 33 menit permainan telah mencapai satu2nya Gol. Dan hingga hari ini lapisan masyarakat dari para pendukung dan penonton masih mengelu elukannya. Torres telah memenuhi sebuah mimpi besar negaranya yaitu sebagai penyandang Eropa Meister 2008!
atas ki-ka : Pelatih Mr. Biggler, Meta (anakku), Rany&Nayana, Nando, Dario, Patrick dan pelatih Mr. Aengist. Bawah ki-ka : (Diaz anakku), Marco L, Joèl, Marco, Marcael dan Nils F.
Nah buat foto Team yang dibawah adalah termasuk pendukung Spanyol sejak awal pembukaan Euro 2008. Aku sempatkan jepret mereka pada saat sebelum pertandingan penutupan Bola Junior E, dan selanjutnya mereka akan di gembleng lagi nanti pada akhir bulan Agustus oleh pelatih baru untuk Senior kids! Pada team ini anakku Diaz sebagai tamu untuk membantu team Junior E. Karena Diaz sendiri sudah masuk di Senior Kids sejak akhir tahun lalu.Pertandingan saat itu adalah Kids Vs Parents, apa jadinya? Tertawa terbahak2 melihat para Ortu tendang bola kesana kemari dan si makhluk imut kecil2 itu dengan mudahnya nyerobot bola melalui sela sela kaki para dewasa. Nggak heran kalo pemenangnya adalah mereka para Junior! Dan masing masing anak dapet hadiah dari Trainernya. Kamipun turut serta merayakan makan malam bersama para jago cilik ini bersama para ortu lainnya.
Begitu juga dengan Team Spanyol yang mayoritas para pemainnya imut imut tapi toh mereka yang tampak lebih gesit dalam mengejar dan merebut bola. Wakakakaakk ....
Meta memasukkan gol kedua buat teamnya ... seru abis!
Sekedar buat update aja tentang ini atas permintaan anak anakku apabila Spanyol menang. Untuk Euro 2008 sudah selesai dengan Happy ending buat Spanyol. Tetapi buat team-nya anak anakku berarti sebuah awal perjuangan mereka untuk esok hari. Terutama anakku Diaz Adhyaksa. Suatu hari pernah aku dengar percakapan Diaz dan suamiku.
Kata Diaz : " wenn ich grosse bin, ich will spiele für Indonesia ..." kalo aku besar nanti aku ingin bermain untuk Indonesia.
Jawab Suamiku : " das geht`s nicht Diaz" Hal itu tidak bisa Diaz.
Diaz : " wieso nicht, papa?" kenapa nggak papa?
Suamiku : " du bist here aufgewachsen, du bist here Schule und Fussball training .. das beduetet in zukunft, du spiele für Swiss" ... Disini kamu dibesarkan, kamu sekolah disini dan juga training sepak bola ... itu berarti kamu bermain kelak untuk swiss.
Aku jadi inget si Hakan Yakin dan Murat Yakin, kedua bersodara ini sejak kecil sudah diadopsi oleh makhluk swiss. Dan mereka berdua dibesarkan dinegara ini. Permainan mereka dalam sepak bola sangat bagus, menurut kacamata swiss. Mereka tidak bisa bermain untuk tanah air kedua yaitu Turkey. Seperti itulah kata mereka ...
Aku nggak memaksakan cita cita anak, biarkan saja mereka tumbuh dan berkembang sesuai bakatnya asalkan Positiv. Tapi kok aku pingin esok hari Diaz jadi jago masak atau Koki meister, melihat hari harinya Diaz selalu didapur perhatikan aku masak dan bahkan dia selalu pingin menolongku. Bisa nggak ya Diaz meneruskan cita citaku .... *sambil mikir ( he he!)









